DAPODIK : Penjajahan terhadap Guru

Bagaikan buah simalakama. Benar di puji jika salah di caci. Mungkin ungkapan itulah yang sekarang menjadi trend bagi operator sekolah. Pencairan tunjangan profesi, tunjangan fungsional, tunjangan khusus, dan bantuan kualifikasi akademik untuk tahun 2013 berdasarkan uplod data DAPODIK. Jadi misalnya data DAPODIK salah maka SK tunjangannya tidak terbit. Begitulah pemikiran sederhana para guru. Dan pastinya yang menjadi sasaran untuk disalahkan adalah operator sekolah.

dapodik

Operator sekolah untuk tingkat Sekolah Dasar kebanyakan adalah Guru. Kepala Sekolah tidak mempunyai cara lain untuk mengangkat seorang operator sekolah. Istilahnya memanfaatkan dan mengefisienkan kinerja DAPODIK sehingga hasilnya maksimal. Namun yang terjadi adalah terlalu banyak masalah atau kendala yang di hadapi, diantaranya adalah :
1. Kurangnya Bimbingan Teknis dari Pemerintah tentang Aplikasi Pendataan untuk Operator Sekolah.
2. Data yang di entry banyak yang kurang dan salah.
3. Operator Sekolah dari guru yang notabene adalah tenaga fungsional bukan tenaga teknis.
Banyaknya kesalahan data yang di entry pada DAPODIK membuat guru was-was tunjangannya belum cair, sangat merugikan bagi guru.

Bentuk Penjajahan terhadap Guru

Pertama, jika operator di ambil dari guru di sekolah tersebut maka yang terjadi adalah guru banyak fokus untuk menyelesaikan pekerjaan DAPODIK. Harus ikut rapat sosialisasi, harus diskusi permasalahan DAPODIK, bahkan harus lembur sampai data selesai di entry. Siswa banyak ditinggalkan. Guru tidak fokus dalam mengajar. Ini sudah menjajah tufoksi dan kerja seorang guru. Bukankah tugas guru untuk mendidik anak bangsa sehingga menjadi penerus dan manusia yang unggul. Jika anak didik banyak ditinggalkan maka ilmu pengetahuan kurang maksimal didapat, karena tidakadanya fasilitator dan motivator dalam belajar, yaitu seorang guru.
Kedua, Operator sekolah tidak becus dalam pengisian aplikasi pendataan. Sangat menyakitkan bagi Operator Sekolah yang tak lain adalah seorang Guru. Padahal Guru yang mau dijadikan operator sekolah sudah banyak berkorban : mengurus data-data personil guru, data siswa, data sekolah, mengentry, mengerahkan tenaga dan biaya untuk lengkapnya laporan DAPODIK tersebut. Bahkan harus mengajar dan mendidik siswa pula. Sungguh Ironis.
Ketiga, banyak SK-SK tunjangan yang belum terbit sehingga belum bisa cair tunjangan tersebut. Data tidak valid, data masih salah, salah pengisian dan sebagainya. Kejadian tersebut sungguh sangat merugikan bagi seorang guru. Hak guru menjadi terhambat. Alasan yang dilontarkan adalah karena salah mengentry jam mengajar, salah nama, salah kode bidang study dan lain-lain. Kesalahan yang dilakuan operator entah itu salah entry atau tidak mengerti meng-entry data, merugikan bagi guru penerima tunjangan tersebut. Data sudah disiapkan dengan baik tetapi oleh operator sekolah salah ketika peng-entry-an data. Sangat merugikan. Hak-hak guru untuk mendapatkan tunjangan profesi, tunjangan fungsional, tunjangan khusus, dan bantuan kualifikasi akademik menjadi terhambat.

Solusi
Berikut penulis memberikan beberapa alternatif dalam menyikapi permasalahan tersebut yaitu :
1. Pemerintah harus mempersiapkan tenaga teknis untuk operator sekolah terutama untuk Sekolah Dasar.
2. Pemerintah dalam hal ini Kementerian Pendidikan Nasional dan Dinas Pendidikan Kabupaten harus memberikan bimbingan teknis kepada operator sekolah sampai ke sekolah-sekolah yang dipelosok.
3. Operator sekolah harus menambah ilmu dengan cara : sering diskusi sesama Operator, menjadi anggota grup Info Pendataan Dikdas di Facebook, membaca buku manual, kosultasi dengan kepala sekolah dan guru.
4. Selaras dengan Ketua Umum PGRI, Sulistyo, PGRI mengusulkan agar pembayaran tunjangan profesi guru ke depan tidak lagi didasarkan pada Dapodik lagi.
Semoga Program Pemerintah ini menjadikan pendidikan Indonesia menjadi maju bukan menjajah guru-guru.

Penulis : Arief Wahiddin (Guru SDN 1 Astanajapura)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s